
Pelantikan Kepengurusan Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2025–2026
Jakarta, 22 Oktober 2025 — Bertempat di Aula Lantai 4 UHAMKA Limau, telah diselenggarakan kegiatan Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Pengurus Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2024–2025 kepada Pengurus Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Fakultas Psikologi UHAMKA Periode 2025–2026, dengan mengusung tema: “Estafet Kepemimpinan: Sinergi Intelektual dan Humanitas Menuju IMM yang Berkemajuan”.
Tema tersebut mencerminkan semangat keberlanjutan dalam estafet kepemimpinan di lingkungan PK IMM Fakultas Psikologi UHAMKA yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai Tri Kompetensi Dasar IMM, yaitu Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan Pelantikan dan Serah Terima Jabatan ini adalah penandatanganan Surat Mandat Ketua Umum dari Ketua Umum Kakanda IMMawan Khoirul Anam kepada Ketua Umum terpilih Kakanda IMMawan Umar Hamid Nugroho. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh dua saksi, yaitu Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jakarta Selatan, Kakanda IMMawan Abdul Hasan Fathur dan Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA, Kakanda Muhammad Faris. Dengan dilakukannya kegiatan ini maka menandai berakhirnya masa kepemimpinan periode 2024–2025 sekaligus dimulainya babak baru perjalanan PK IMM Psikologi UHAMKA periode 2025–2026 dalam menjalankan visi dan misi organisasi.
Dalam kesempatan ini, Ketua Umum terpilih, Kakanda IMMawan Umar Hamid Nugroho, menyampaikan visi-misi dan harapannya untuk satu periode ke depan. Ia menekankan pentingnya mewujudkan IMM Fakultas Psikologi UHAMKA sebagai organisasi Islam berkemajuan yang berbasis pemikiran konseptual dan advokasi humanitas. Pemikiran konseptual dimaknai sebagai upaya memperdalam kemampuan analitis dan intelektual pengurus melalui tradisi berpikir ilmiah yang berakar pada nilai-nilai Islam yang inovatif, inklusif, dan adaptif. Sementara itu, advokasi humanitas dipahami sebagai bentuk kepedulian dan pengembangan sikap empati terhadap isu-isu kemanusiaan yang berlandaskan pada nilai-nilai etika dan moral. Ia juga berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi formalitas administratif semata, tetapi juga sebagai momentum spiritual dan ideologis yang meneguhkan semangat estafet kepemimpinan. Semangat estafet kepemimpinan ini menjadi simbol bahwa perjuangan tidak pernah berhenti pada satu periode saja, tetapi terus bergerak maju dengan dedikasi dan kolaborasi guna mewujudkan IMM sebagai organisasi Islam yang berkemajuan


