Kekuatan Psikis Do’a dan Kenapa harus Terus Melakukannya
oleh: Sanniyah Itsnain Fathyka (Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka)
Pernahkah teman-teman mendengarkan anjuran untuk tidak pernah berputus asa dalam berdo’a? Iya benar, do’a dianggap sebagai sesuatu yang mulia. Rasulullah pernah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang berkata:
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan do’a” (HR. Tirmidzi).
Salah satu hal yang selayaknya dilaksanakan oleh seorang mukmin adalah berdoa. Dalam ajaran Islam, do’a adalah kegiatan memohon kepada Allah untuk suatu hal. Do’a merupakan bagian paling mendasar dari ibadah. Do’a dipanjatkan oleh seorang muslim ketika mengalami kesusahan maupun diberi kemudahan dalam kehidupan di dunia.
Selain itu, kebanyakan dari kita, akan rajin berdoa ketika sedang sakit, ditimpa musibah atau ketika memiliki berbagai masalah yang memberatkan hidup. Hal ini karena do’a sendiri memiliki efek psikis yang positif terhadap perasaan. Sejatinya orang-orang yang sedang berada dalam titik rendah dalam hidupnya, begitu dia berdo’a, dia sedang menempatkan dirinya ke dalam sebuah situasi religius, dia sedang “berkomunikasi” dengan Tuhan, menceritakan segala keluh kesah hidup kepada-Nya, dimabuk cinta dan kasih, hingga akhirnya setelah selesai, pikirannya bisa jadi lebih tenang, dan bahagia.
Hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah dari sudut pandang biologi dan psikologi. Andrew Newberg, direktur riset di Marcus Institute of Integrative Health dan dokter di Thomson Jefferson University Hospital memaparkan temuannya dari hasil scan otak yang dilakukan pada subjek yang sedang berdo’a, hasilnya adalah temuan beberapa bagian otak yang teraktivasi pada saat seseorang berdoa. Yakni bagian atensi (perhatian, konsentrasi) dan bahasa. Sementara bagian otak yang lain seperti kontrol dan persepsi ruang dan waktu mengalami penurunan aktivitas. Menurut Newberg, hal ini membuktikan kegiatan religius seperti berdo’a mampu memblokir sensor dan pikiran kita dari persepsi ruang dan waktu sementara di sisi lain meningkatkan aktivitas komunikasi dan atensi1 .
Tidak hanya sampai di sana, Jordan Graffman dan kolega menemukan proses lain yang ditemukan dalam otak seseorang yang sedang berdo’a, proses ini dikenal sebagai aktivasi theory of mind, yaitu kemampuan untuk berempati dan memahami orang lain. Aktivasi wilayah ini sama seperti aktivasi otak pada saat melakukan komunikasi interpersonal atau proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih. Hal ini berarti, tidak hanya perasaan “berbicara” langsung dengan Tuhan, tetapi otak kita juga memberikan stimulasi pikiran bahwa Tuhan sedang mendengarkan langsung do’a kita, hal ini berujung pada persepsi seseorang yang berdo’a bahwa dirinya sedang bercakap dengan Tuhan (Grafman et al., 2020).
Hal menarik lainnya adalah, pengalaman relijius dari kegiatan berdo’a mampu memberikan “manfaat” tersendiri di luar ekspetasi terhadap dikabulkan atau tidaknya do’a kita. Dalam penelitiannya mengenai hubungan antara rasa sakit dan doa, Jordan Graffman dan kolega menemukan bahwa orang yang mengalami pengalaman relijius saat berdo’a sebagaimana dijelaskan sebelumnya, cenderung untuk merasa rileks dan tidak merasakan sakit terutama secara psikis dibandingkan mereka yang tidak mengalami pengalaman tersebut. Hal ini karena area motivasi dan evaluasi di otak kita menjadi sangat aktif pada saat mengalami pengalaman relijius. Area otak ini juga merupakan area otak yang sama saat kita merasakan sesuatu yang menyenangkan seperti rekreasi, memakan makanan manis, bermain, dan sejenisnya.
Hal ini mengindikasikan adanya hubungan antara produksi oksitosin, atau hormon rasa kasih sayang dan ikatan cinta, dengan kegiatan relijius. Dijelaskan lebih lanjut oleh Van Cappellen dan Saroglou (2012) bahwasanya produksi hormon ini mempengaruhi aktivitas spiritual dari dua kelompok berbeda yang efeknya bisa bertahan selama beberapa waktu. Dalam studi yang berbeda yang dilakukan oleh Anniruddha Das (2018), ditemukan bahwa kadar testosteron dalam tubuh berkaitan erat dengan tingkat relijiusitas sesorang. Hormon ini bersama hormon lainnya yang turut diproduksi tubuh bertanggung jawab atas perasaan bahagia yang dialami oleh seseorang yang berdo’a.
Setelah mengetahui aktivitas atau kegiatan religius seperti berdo’a mampu menyembuhkan psikis dan memberikan perasaan yang nyaman dan bahagia, tidak heran kita sering dianjurkan untuk berdo’a sebagai bentuk penenang diri dikala tertimpa kesusahan ataupun sedang berada dalam kondisi down secara psikis. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, do’a mampu menjadi obat karena membanjiri otak kita dengan “hormon cinta”. Tetapi, efek dari hormon ini tidak dapat berlangsung lama dan harus diproduksi berulang-ulang sehingga kita tetap dapat merasa damai, bahagia, dan nyaman. Hasilnya adalah, pikiran kita terbentuk untuk mengingat pola kenyamanan ini dan mengasosiasikan pengalaman relijius sebagai sebuah kenikmatan dan perasaan untuk terus bergantung pada Tuhan melalui do’a-do’a, tak jarang hal semacam ini mampu menjadi booster keimanan kita.
Selain itu, efek temporer dari “hormon cinta” yang mampu menenangkan diri kita setelah berdo’a tentu saja menjadi isyarat bahwasanya hendaklah kegiatan berdo’a itu dijadikan sebagai rutinitas, layaknya proses charging terhadap keimanan kita, sehingga kita selalu terhindar dari pikiran negatif dan perasaan tidak menyenangkan, tak heran Nabi senantiasa menganjurkan kita untuk terus berdo’a sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang terus-menerus mengulang-ulang ketika berdo’a.” (HR. At-Thabrani dalam ad-Du’aa’, hlm. 20).
Sejalan dengan hal itu, Allah sendiri juga mengonfirmasi kedekatan-Nya dengan hamba-hambanya yang berdo’a dalam surah Al-Baqarah ayat 186 yang berbunyi:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah: 186).


