Contact us : 0822-5511-5400
Address : Jl. Limau II No.2, RT.3/RW.3, Kramat Pela, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
Categories:

Oleh: Muhamad Yusuf, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka

    Mengingat Allah atau berdzikir adalah salah satu aktivitas yang dapat membantu kita healing dan menjemput ketenangan. Menariknya, dzikir tidak secara otomatis akan membuat kita menjadi tenang. Menurut Bapak Bagus Riyono dalam webinar Intervensi Psikologi Berdasarkan Islamic Worldview, dzikir yang akan membantu kita untuk menenangkan atau memulihkan diri ini ternyata bukanlah yang sebatas pada lisan saja, melainkan perlu melibatkan jiwa yang ikut berdzikir dengan seluruh ketundukannya kepada Allah serta disertai juga dengan ilmu, pemahaman, dan kesadaran yang kita miliki terkait Allah dan dzikir itu sendiri.

Diantara dzikir-dzikir yang ada, istighfar adalah dzikir yang powerful dan luar biasa yang juga merupakan amalan yang sangat dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bahkan, para nabi pun mencontohkan untuk merespon situasi/kondisi yang menekan dengan memohon ampun kepada Allah.

Bagaimana bisa istighfar membantu kita memulihkan diri? Istighfar dapat digunakan sebagai proses membersihkan diri atau penyembuhan jiwa sehingga hal tersebut dapat membawa kedamaian batin dan menghasilkan solusi dari keadaan sulit yang dialami. Allah mendorong setiap manusia untuk beristighfar agar manusia dapat menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupannya (Karakaş & Geçimli, 2017).

Selain itu, ketika individu mengucapkan kata-kata baik atau kalimat pujian kepada Allah dalam dzikir, maka akan menciptakan optimisme sehingga individu tersebut memiliki kekuatan untuk dapat merealisasikan harapannya (Anggraini, 2018). Namun, tanpa di sadari kita seringkali beristighfar dengan “asal-asalan” sehingga cenderung tidak berdampak signifikan terhadap kondisi perasaan kita. Lalu, bagaimana semestinya kita beristighfar?

ISTIGHFAR = MAGHFIRAH

Akar kata dari istighfar adalah maghfirah. Secara bahasa, maghfirah ini artinya 3:

  1. Memohon ampunan (ASKING FOR FORGIVENESS)

Meminta maaf berbeda dengan membutuhkan maaf. Bedanya? Apa bila meminta maaf itu hanya hal yang standar aja, di ibaratkan kita hanya mengucapkan, “Sip, maafin aku ya!”. Akan terapi apabila membutuhkan maaf itu lebih dalam dari pada itu, “Saya sangat ingin kamu memaafkan saya. Bisakah kamu memaafkan saya?”

“ASKING IS THE MATTER OF THE TONGUE, BUT WANTING IS THE MATTER OF THE HEART. ISTIGHFAR COMBINE BOTH OF THEM.” – NOUMAN ALI KHAN

Seringkali istighfar kita hanya di lisan, padahal istighfar yang sebenar-benarnya adalah istighfar yang melibatkan lisan dan juga hati. Dan istighfar yang melibatkan keduanya inilah yang dapat memulihkan diri kita.

  1. Menutupi sesuatu (BE COVERED)

Kita perlu menyadari terlebih dahulu kalau kita memang memiliki dosa, yang boleh jadi dosa itu hina, buruk, dst. Namun, Dengan beristighfar kita meminta kepada Allah untuk menutupi semua itu dan Allah akan menutupnya.

  1. Mencoba melakukan sesuatu (TRYING TO DO SOME ACTIONS)

Semestinya ada upaya di dalam istighfar- istighfar kita. Salah satu bentuk konkretnya adalah berusaha untuk tidak melakukannya lagi.

ISTIGFAR SEBAGAI METODE PSIKOTERAPI

Istighfar merupakan salah satu Metode terapi di dunia psikologi yang biasa di kenal dengan psikoterapi, psikoterapi merupakan pengobatan pada alam pikiran, atau yang biasa kita kenal perawatan bagi seseorang yang mengalami gangguan pada psikis nya melalui metode psikologi

Kenapa sih istighfar? Karena istighfar mampuh untuk menenangkan diri kita, yang tidak luput dari dosa dan salah kepada orang lain yang menimbulkan kecemasan. Kecemasan tersebut dapat mempengaruhi pikiran kita sehingga menghabat kita untuk melakukan hal lain seperti ketika kita di hadapakan pada skripsi, kecemasan yang terjadi pada pikiran kita akan menghasilkan pengerjaan yang tidak maksimal. Sebuah penelitian menjelaskan istighfar berpengaruh terhadap menurunkan kecemasan. Hal tersebut berdasarkan analisis data yang diambil setelah subjek melakukan terapi yang akhirnya memberikan hasil yang positif yaitu tingkat kecemasan yang menurun pada mahasiswa S1(Dian Nugrahati,2018).

naga169 slot303 jpslot bigslot akunjp starslot bsi4d ladangtoto gacor303 indobet slot qris